Friday, June 16, 2006

This Feeling

This feeling will burden me
In my smile and cry
Like the wind blows the eagle
Crash the rock with the song of angels

This feeling looks like an Eden of fire
Desires, humble and scars
Like the stars sparkling in the night
Look beautiful without owner of the light

This feeling divine fear and brave
Fill the heart and brain
Like a horse and soldier
Without words, they help each other

I wrote this book from sky to the earth
The ink was over and pages were done
Than I’m singing without tears
Only the lips spelling fears

Tuesday, May 09, 2006

Nothin' can be done

Nothin' can be done
Nothin'
can be done
Nothin' can be
done nothin'
Nothin' can be done
Nothin'
can be
done
I’ve done nothin'

Friday, April 28, 2006

We Love Thee

The perfect one, we love thee
The holly one, we love thee
The great one, we love thee
The chosen one, we love thee

When the dark goes down
When the light less bright
Thou come starling through the dawn
Thou come as the eyes of blind

Than Latta, Uzza, Manna
Break thy sight, thou give up not
Than they ask thee a moon and sun
On thy hand, thou give up not

O... dear bright bright light
More than star moon and sun
We continue thy fight
From ancestor to the son

Now we here lying heart to pray
Through the stair of thy way
With the book thou receive
As guidance in believe

O … Allah
Shall we bath in tear
For the love could hear
Or with the brave we feel
In the faith we fill

The perfect one among us
Shollu alaih
The holly one among us
Shollu alaih
The great one among us
Shollu yaa Muhammad
The chosen one among us
Shollu yaa Rasulullah


Tuesday, April 18, 2006

Kau, Pecinta…

Ada lebam di pandangan matamu
Begitu keraskah masa lalu memukulimu?
Kau menghardik orang yang datang mencintaimu
Namun seterusnya, kau lerai benang benci yang mengikatmu

Ada lingkaran cahaya mengintip di balik jendelamu
Mengenai matamu yang masih terpejam
Menghayalkan masa lalu yang seterusnya kau runut
Membasuh wajahmu yang telah kuyu dan putih

Ada embun meresap di dinding kamarmu
Menyengat kulitmu yang telah kering
Namun kau menepis sejuknya
Dan kembali mengembara pada pasir tandus
Di balik matamu yang terpejam

Kau mencintai dia
Kemudian kau membencinya
Lalu kau mencintai dia
Dan kau membencinya
Mencintai…
Membenci..

Dan inilah kau sekarang
Memejamkan mata
Dalam temaram kamarmu
Di mana kau simpan dia?

Wednesday, March 29, 2006

Ini Untukmu

Ini untukmu
pada pagi, siang dan malam hari yang kau miliki dan aku
yang meliputi runut hidupku
yang memeluk dan merembas pada liang pori-poriku

Kau telah melhatnya
sudah sekian luka terbuka dan berdarah
kemudian melambung pada langit milikmu dan aku
lalu tersungkur di liang tanahmu dan aku

Dengan telingamu
kau resapi ratapan membahana dalam kalbumu dan aku
kau kidungkan tangismu melalui parau suaraku
lalu kau tenggelam dalam gumam yang terdzikir dibibirku

Kau hadir tak terjangkau arah
melebur asa dan waktu pada ribuan dimensi kegelapan yang kaucurahkan
membuat hatiku buta dengan nikmat hitammu
yang kau balut dengan kerling bintangmu

Sehingga kau sentuh aku
dalam gelapmu dan aku di sana berkubang nikmatmu
lukaku sudah tak ada, meski sakit itu kau yang punya
paruhkan aku atasmu

Karena aku adalah gelap dan kau adalah cahaya

Tuesday, March 21, 2006

Flower Ghost: Sebuah Analisis

Flower Ghost

She comes through the side
of the house
entering the kitchen
down a slant of light
bearing a basket of flowers

She desires to be everywhere
She will entrap your heart
If you accept her flowers

You cannot escape
You have become enraptured
with the scent of flowers

She has her own way around the house
which is not your way
So she has the advantage
and you
You give her more flowers

Louise Crisp (New Zealand: no year)

Kata Flower Ghost, jika dilihat dari judulnya seakan tidak memiliki keterkaitan antara satu dengan yang lainnya. Tetapi sebenarnya, bila dilihat lebih dekat melalui pemaknaan simbolisasi maka kedua kata tersebut memiliki makna yang saling terkait.

Pertama kata ghost yang berarti hantu yaitu sesuatu yang tidak dapat dilihat (meskipun terlihat ia selalu menampakkan dirinya dalam bentuk yang lain bukan sosok sebenarnya) tetapi dapat dirasakan. Bahkan kehadiran hantu dapat menimbulkan perasaan gelisah dan takut. Selain itu, kata ghost juga memiliki arti lain yaitu ‘kematian’ (The Ghost Town yang berarti kota ‘kematian’). Kematian merupakan titik akhir dari sebuah perjalanan hidup atau dalam agama Hindu sebagai puncak pencarian seseorang dalam hidupnya untuk bersatu dengan Tuhannya. Dengan demikian pengertian ghost pada pandangan sebagian banyak orang disimbolkan sebagai kematian yang pasti datang dan selalu mengikuti dan menghantui siapa saja seperti bom waktu yang setiap saat bisa meledak.

Kedua, kata Flower kadang-kadang memiliki makna simbol untuk cinta, sesuatu yang harum, kecantikan/cantik, perempuan dan bahkan kematian. Sehingga seseorang hanya menyebutkan kata bunga atau jenis bunga tertentu saja untuk mewakili dari salah satu simbol-simbol tersebut.

Melalui pemaknaan simbolisasi tersebut, kedua kata flower dan ghost memiliki keterkaitan bahwa kematian seperti seorang perempuan yang datang dengan ‘pesona’ dan ‘keharumannya’ kemudian meliputi kehidupan seseorang. Perempuan dalam hal ini bisa seorang Hawa terhadap Adam, Cleopatra terhadap Julius Caesar, Zulaikha terhadap Yusuf atau perempuan siapa saja yang hadir dan membuat orang terpesona dan lupa dengan sekitarnya.

Judul ini kemudian diperjelas dalam bait pertama, di mana si aku lirik menyebut kematian dengan She (dia perempuan) yang datang melalui samping rumah kemudian ke dapur. Terdapat ironi dalam tiga larik pertama /She comes through the side/ of the house/ entering the kitchen/ yaitu biasanya segala sesuatu atau seseorang apalagi dia seorang perempuan yang diharapkan kedatangannya pasti dia masuk melalui pintu depan dan ke ruang tamu. Namun pada bait ini, kehadiran she tidak diharapkan, karena itu dia menyelinap masuk melalui samping rumah bahkan memadamkan cahaya di sana dengan membawa sekeranjang bunga. Seperti kematian yang pasti akan datang meskipun tidak diharapkan tetapi dia akan datang menyelinap dengan membawa berbagai jenis kematian, bearing a basket of flowers.

Adapun house dalam puisi ini merupakan metaphor dari tubuh dan jiwa manusia di mana manusia dengan segala perangkat fisik dan akalnya menjadi sebuah unit yang sempurna yang kemudian digunakan untuk berpikir, bertindak dan merasa. Sama halnya dengan rumah. dalam konteks ini rumah merupakan sebuah unit yang saling mendukung sebagai salah satu fasilitas hidup primer yang berfungsi untung melindungi seseorang dari cuaca atau pun memberikan rasa aman dan nyaman.

Jika rumah adalah metaphor dari tubuh dan jiwa seorang manusia dengan segala fungsi di dalamnya, maka kematian yang hadir dan masuk layaknya perempuan yang menyelinap dari samping rumah pada akhirnya hal tersebut menjadi wacana yang senantiasa ada dalam pikiran dan jiwa manusia tanpa disadari maupun tidak.

Selanjutnya, pada bait kedua dijelaskan tentang ‘teror’ pesona dari aktivitas kematian dalam diri seseorang. /She desires to be everywhere/ kata desire merupakan kata yang bermakna erotisme atau juga keinginan alamiah yang kuat untuk mendapatkan atau menuju sesuatu. Kematian dengan desire-nya ingin berada di mana saja meliputi diri seseorang. Kematian akan mengekang dan mengikat hati orang yang didatanginya untuk terus berada dalam kendalinya apalagi ketika orang itu sudah menyadari kehadirannya, seperti yang disebut dalam larik /If you accept her flowers/

Keterikatan ini kemudian diperkuat pada bait ke tiga di mana seseorang yang telah masuk dan terjebak di dalam pesona kematian yang dihadirkan she membuatnya terpana tak bergerak selangkah pun untuk meninggalkannya. Ironi ini sengaja dihadirkan si aku lirik yang memang sejak awal membahasakan kematian sebagai sosok perempuan yang menggoda.

Kemudian pada bait terakhir, si aku lirik menekankan bahwa seseorang tidak dapat menentukan apapun atas dirinya sendiri pada saat kematian itu telah hadir. /She has her own way around the house/which is not your way/. Larik ini seolah menutup pilihan bagi seseorang yang sudah terjebak diambang kematiannya.

Selanjutnya pada tiga larik terakhir, si aku lirik juga menekankan arogansi sebuah kematian yang harus dihadapi. /So she has the advantage/ and you/. Jika advantage berarti ‘kesempatan’ juga berarti 'keunggulan' (He took advantage of the lone woman) maka kematianlah sebagai satu-satunya yang memenangkan ‘permainan’ ini. Dan manusia yang memang sejak awal menjadi objek kematian tersebut justru menambah kegemilangan dari kemenagannya dengan memperbanyak jumlah kematian. /You give her more flowers/.

Ada yang menarik dari puisi ini, di mana si aku lirik selalu menyebutkan kata bunga (flowers) dalam bentuk plural. Padahal bisa saja hanya dengan kata flower sudah mewakili symbol kematian misalnya. Dengan demikian terdapat beberapa flowers yang perlu dimaknakan, ada beberapa kematian yang ingin digambarkan oleh si aku lirik. Kematian dalam hal ini sangat general seperti yang di sebutkan pada bait pertama larik ke lima /bearing a basket of flowers/.

Kematian dalam hal ini bisa saja kematian pada jiwa, hati, pikiran, kreativitas, pengetahuan atau apa saja yang terdapat pada diri manusia. Artinya kematian dalam bentuk lain juga bisa terjadi. Seseorang akan mati pengetahuan dan kreativitasnya jika ia tidak belajar. Mati dalam arti orang tersebut tidak memiliki fungsi sosial yang seharusnya. Meskipun badannya tetap hidup, namun pada hakikatnya dia telah mati dalam kehidupannya itu. Orang seperti ini hanya akan menjadi sampah masyarakat yang sebagian orang menganggapnya bau dan mengganggu.

Dengan demikian, puisi ini adalah sebuah peringatan kepada kita, bahwa kematian (dalam bentuk apapun) selalu ada di sekitar kita, menghantui kita dan suatu saat dia dengan serta merta akan merengut kehidupan kita. Karena kematian adalah takdir Tuhan yang setiap manusia atau apapun yang bernafas akan menghadapinya cepat atau lambat, mau atau tidak mau.

Tuesday, March 14, 2006

The Lottery Ticket by Anton Chekhov

Some Ironies Between Fancy And Reality
Human characters mostly are similar. They prefer to live in a better or even in luxury condition. No body can receive easily their pathetic life. It is kind of irony, when they also push their selves to change their class to be higher than the other class in their social community. Those attitudes seem natural. But if we see it deeply that people will does anything even a bad thing to make a better life. This story below will show some ironic attitudes about somebody.
Ivan Dimitritch and his wife Masha, a middle class family, are one of the examples. Ivan goes to work and feels satisfied with his only 12.000 Rubles income for a year. Although, it is a though life, they can face it in burden heart. Ivan also does not believe in lottery luck. It looks ridiculous thing for him. That is why he shows his mockery and skepticism face when his wife asks him to check her lottery series number on the newspaper. He speaks to her wife unenthusiastically. “All right… we will look… 9.499 and 26.” His tone shows that he doesn’t really interest with it.
We can see the irony which is shown by Ivan, when Ivan shows the series of lottery number, suddenly he reveals his different perspective on the luck of the lottery. Even, he starts fancying many things with the prize. The prize is about 75.000 Rubles. He imagines that he and his family will move in luxury house with new and expensive furniture. They will get well food, serene, healthy body, feeling warm, even hot.
At one mentioned explanation showed that it is ironic that Ivan finally dissatisfied with is life, and he cannot do anything to change that condition, even though he initially tries to accept whatever his life is. Therefore, when he believes on lottery, he wants to use the money to change his life. So, he does not have to think anything and does not have to go to the office anymore. (p.363).
The irony also comes to Masha. The woman who dedicates her life to take care of the house, cook, bring up the children and others house wife’s job and does not really except much about what will she do with the money. But than she imagines the same thing what her husband does. She than feel bored and tired with her recent condition.
Next, the irony in this story becomes more complex. When both Ivan and Masha have their own fancy in their imaginations. Ivan thinks that if his wife got the lottery, she would go abroad and would find another man who is better than him. He also thinks that she would keep the money only for herself and would hide it from him (p.365). From his imagination, it seems that has already lost his confidence to lead his family through a simple life. “She will after her relations and grudges me every farthing.” He starts underestimating himself and creates his imagination that he would loose his power in the family. If it happens, his family would go away from him.
Ivan also starts hating his wife’s family. He thins that if Masha got the money, they would come to Masha and ask her to share the money with them. Meanwhile, they never give anything to his family before (p.365). His imagination is as a proof that Ivan displeases with Masha’s family, even though he never discusses it with her.
Unfortunately, Masha feels what Ivan hides from her. Masha cannot suspect that everything she does is useless when she sees her husband’s eyes starts hating her. Than Masha decides to own the prize on her own. “It’s very nice making daydreams at other people is expense!” is what her eyes expressed “No, don’t you dare!” (365). We also find an irony statement here. Masha calls her self in her mind as ‘other people.’ It means that Masha puts herself as a stranger infront of her husband. Than, they start hating each other.
The final irony from this story is when Ivan finds the number which is not same with the lottery. Suddenly they loose their dreams at once. They shouldn’t think nor even plan the stupid dreams, while they have not checked the number of the card firstly. So, they do not have to hate each other or even loose their trust one of another (p.365).
If we think the story about. It seems like a joke. But actually we find a picture of ourselves there. People will change their character dramatically as an ‘evil’ when they stuck in material things. They cover their heart from love, care ness, sensitivity to care someone who really cares of them.