Thursday, January 27, 2005

Dua Malaikat

Semalam aku bertemu dengan setan. Padahal kemarin Tuhan bilang kalau malaikat yang akan datang mengunjungiku.

Semalaman kami bercakap-cakap. Dia bilang padaku kalau dia juga malaikat, tapi malaikat yang terbuat dari api. Banyak hal yang kami bicarakan, tentang hidupku dan hidupnya. Hingga akhirnya aku tahu, bahwa malaikat dan setan itu hampir tidak ada bedanya.

Mereka sama. Sama sama lelaki berkacamata dan berambut panjang. Aku bertanya padanya, apa ia bisa melihat takdirku. Kata Tuhan, besok aku akan mati.

Dia bilang padaku. Kalau aku dibohongi, karena aku sedang sedih sampai aku ingin mati. Katanya, Tuhan tidak menjemputku untuk mati, melainkan akan mengajakku tour ke surga untuk menghiburku. Aku tertegun, memang kadang orang selalu menganggap kematian sebagai kesudahan semua kesulitan yang sedang dialami.

Tapi tadi pagi, ada juga lelaki berkacamata dan berambut panjang mengunjungiku. Katanya dialah malaikat yang diutus Tuhan untuk menemuiku. Aku bilang padanya kalau semalam juga ada malaikat yang terbuat dari api datang menemuiku.

“ Aku malaikat lain yang terbuat dari cahaya. Aku datang untuk merubah janjiNya padamu. Maaf kalau aku terlambat, banyak sekali pesan Tuhan yang harus aku sampaikan.” Jelasnya.

“Oya, ada pesan dari Tuhan, kataNya kamu gak jadi mati. Kamu akan tetap hidup, tetap berharap dan akan tetap menjadi apapun yang kamu inginkan.”

Kemudian dia mendekatkan wajahnya ke arahku dan berkata, “Cuma satu kataNya. Kamu harus tegar, berambisi dan harus kuat merengkuh dunia ini!”

Karena tanah tak elastis, kayu pun tak elastis dan karena aku tak sekuat itu. Aku bilang padanya kalau aku tak sanggup lagi berpijak apalagi merengkuh dunia ini. Aku hanya ingin tidur di pangkuanNya dan mendengarkan senandung nina boboNya. Nyenyak. Nyenyak sekali.

“Tidak! Pangkuan Tuhan belum terbuka untuk orang-orang seperti kamu. pangkuanNya hanya untuk orang-orang baik. Bukan orang-orang sepertimu!” tandasnya.

Aku menangis, apakah pangkuan Tuhan sesempit itu?

Tapi akhirnya aku berpikir. Jangan-jangan ini bukan malaikat yang asli. Meskipun dia berkacamata dan berambut panjang.

Atau memang dia malaikat, tapi malaikat yang suka berbohong. Datangnya saja terlambat.

Aku yakin, aku pasti bisa tidur di pangkuan Tuhan, merasakan belaian dan pelukan kerinduanNya.

Malaikat yang terbuat dari api itu memang benar, kalau aku sekarang sedang sedih. Dan mungkin dia juga benar, kalau Tuhan akan datang untuk menghiburku. Meskipun banyak yang bilang kalau dia mahluk paling pendusta. Aku tidak peduli.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home