Wednesday, January 12, 2005

Hatiku dan Aku (1)

Berhentilah bernyayi, jika suaramu kian parau. Dan menagislah dalam kelelahanmu. Tak perlu tersenyum jika air mata itu kebahagianmu. Jangan paksakan ia mengendap menjadi kristal palsu perasaanmu. Biarkan ia membuncah seperi mata air di gunung hatimu.

Bila jiwamu telah puas, maka kembalilah bernyayi. Jangan katakan tidak, karena hidup ini sangat menyakitkan jika ditolak. Kalau pun kau ingin mengatakannya sekarang, teriakkanlah! Mumpung suaramu sedang parau, agar hanya angin dan bayanganmu saja yang mendengarnya. Selanjutnya, dzikirkan kata ya…

Biarkan ia mengalun dalam nyanyianmu yang baru.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home