Friday, February 25, 2005

Tadaima

Terbangun di tengah pagi, bahkan terlalu pagi buatku. Mimpi buruk lagi. Kali ini, di antara guyuran hujan beberapa orang mengenakan jubah hitam menculik dan menyekapku di sebuah gereja tua di atas tanah tak bertuan.

Tak ada suara, hanya desah nafas dan seretan kaki seorang pincang di antara mereka yang sesekali diinterupsi dengan suara petir. Mereka menghempaskanku di altar. Kemudian sebuah celurit diacungkan dan siap menembus perutku. Aku memekik dan tiba-tiba semuanya hilang.

Aku terbangun di tengah pagi bahkan terlalu pagi buatku.

Merapikan rambut dan duduk bengong di sisi tempat tidur. Kudapati buku The Dark Bible torehan Jim Walker yang lecek karena semalaman berada di bawah bantalku. O..God aku ingat, setengah malamku telah kuhabiskan dengannya. I see, ternyata ini penyebab mimpi burukku.

Di luar masih hujan, tak dapat kulihat hanya kudengar gemericiknya diiringi udara dingin yang menyelinap di lubang angin jendela kamarku. Aku menghela nafas, “Pagi yang sama, selalu hujan dan dingin” gumamku.

That’s it!
Sudah hampir seminggu terperangkap dalam keadaan seperti ini. Ternyata bed rest itu sangat menjenuhkan. Seharian mengukur kamar ditemani malam dengan mimpi buruk, pagi yang selalu hujan, makan bubur hambar dan minum setumpuk obat-obatan. Tidak cukupkah infeksi pencernaan ini saja yang menyiksaku?

Usai shalat, kubereskan pakaian dan buku-buku ku.
"Mau ke mana?” Tanya kakakku yang baru bangun. “Balik” kataku. “Udah sehat?” tanyanya lagi. Aku terdiam. Kakakku beringsut bangun dan pergi. Good, tak perlu berdebat dan berapologi sepagi ini.
Sudah kuputuskan aku harus mengakhirinya.

Di dalam bis, kupandangi pohon yang berlarian dikejar awan dan matahari yang belum terang betul karena ditutupi mendung. Butiran gerimis mengalir di balik jendela menyapu debu kaca yang kurasa hanya dibersihkan ketika hujan saja. Kuhiraukan ngantuk yang sangat mengganggu ringan kelopak mataku, karena pemandangan di balik jendela ini teramat sayang untuk dilewatkan.

Hujan sudah benar-benar berhenti, ketika kutapakkan kaki di atas Jakarta. Udaranya memang tidak sebersih di rumah, tapi disinilah nafasku, nafas teman-temanku, nafas bocah-bocahku dan nafas kesendirianku.

Tadaima (Aku pulang). Kembali menyambut keseharianku yang mungkin nanti akan membawaku pada satu asa yang kurasa belum juga sempurna. Senyuman.

Oya, Untuk Abid. Selamat datang ke dunia ini, sayang.
Didi gak tahu apakah tempat ini akan senyaman ketika kau masih berada di dalam rahim kakakku….

0 Comments:

Post a Comment

<< Home