Monday, March 21, 2005

Jadi Selama ini…?

Mendengarkanmu mengatakannya dengan lirih, aku menyaksikan gunungan es tengah mencair mengakhiri tandusmu. Kau biarkan semuanya terlepas dari sekian yang mengungkungmu. Menjernihkan danaumu dan menata hancurmu.

Tiba-tiba kau terdiam ketika aku terus menatapmu.
“Ah… Seharusnya aku tak perlu mengatakan ini,” desahmu dalam saksiku.
“Tak apa, aku pernah dalam keadaan seperti ini…”
“Bahkan yang terdalam,” mengatakannya di tatapmu.

Kemudian, kembali kau mengatakannya dengan lirih.

Hampir tak ada air mata, meski kau tak perlu menahannya. Dan aku memang begitu, tak pandai menangisi luka.

“Jadi kau akan membenciku, sekarang?” tanyamu yang kudengar semakin lirih.

Aku mengerjap, tiba-tiba sosokmu mengabur antara nyata dan maya.
Tanganmu menyentuhku, menoreh sadarku. Kudapati matamu tajam menghunus batinku yang tak berperisai. Kau temukan kekecewaanku yang memang tak patut aku sembunyikan. Namun kemudian kau tersenyum karena hatiku tak ingin membencimu.

Hanya saja, kenapa harus aku dan selalu aku yang kau anggap patut dalam rangkaian terpahit kehidupanmu. Apa karena kau tahu aku tak akan pernah pergi dari segala yang mengikatku.

“Bukan!” Jawab matamu. “Karena kau adalah terangku,” ujarmu yang sudah tak lirih lagi.

Kemudian aku terlebur dan bergelayut atas cintamu yang tak pernah kurestui, menepis hatimu dan beranjak pergi membawa tatapmu yang kurasakan tak akan pernah pergi.
Dan karena memang kau tahu, aku takkan pergi dari segala yang mengikatku.

PS:

Akhirnya perjuangan berburu file-file yang hilang selesai juga walau cuma 60 persen. Gw seneng banget. Makasih Tuhan, kau dengar doaku. Haleem, makasih ya. Udah ngeback up folder gw, kali ini perbuatan tak terdugamu kumaafkan, thank you very much. Sepupu baikku Nazla, thank's yach dah nyempetin ke kantor for taking care of my computer...

0 Comments:

Post a Comment

<< Home