Tuesday, March 08, 2005

Through The Rain

“No body is perfect,” katanya di tengah hujan yang tak pernah dia benci. Datang pada suatu malam yang belum pernah kulihat indah seperti saat itu. Memberiku sedetik udara dari sekian penat dalam nafas hidupku. Baru disadarinya, aku telah menjadi rapuh dari segenap senyuman yang sering dia lihat. Kerapuhan mengakar dari masa hitam yang tak pernah kumaafkan.

“Lepaskan dunia di punggungmu. Kau bukan Tuhan” Katanya di tengah hujan yang tak pernah dia benci. Menyadarkanku tentang pentingnya berbagi.
Sesuatu yang sering kulakukan hanya sebagai konsekwensi berkehidupan. Aku menerawang memandangi masa lalu itu, yang masih saja hitam.

“Pilihlah kehidupan yang paling kau inginkan. Karena sekaranglah saatnya” Katanya di tengah hujan yang tak pernah dia benci. Membuatku terdiam seperti yang biasa aku lakukan selama ini. Kurasakan hatiku membeku pada sebuah ketakutan untuk mulai memilih hidup yang memang selama ini tak pernah diputuskan pada ujung lidahku.

You are not alone. Kau berada di antara orang-orang yang mencintaimu” Pada akhir kata ditengah hujan yang tak pernah dia benci. Mengantarku menembus malam dengan hati yang menghangat di antara hujan.

Gumamku tertahan, “Terima kasih. Hai, perempuan pencinta hujan.”

0 Comments:

Post a Comment

<< Home