Friday, April 01, 2005

Jam Sebelas

Memandang langit yang ditemani sebuah bintang, meliputi bumi dan memeluk malam. Kegelapan sudah datang sejak magrib tadi. Dan hujan baru saja berhenti.

Aku menatap dari sini dan mendengarkan mahluk malam riuh mensyukuri gelap.

Seekor burung berkoak di balik pohon cemara, memanggil sanak entah tetangga. Tujuh kekelawar berterbangan mirip layang-layang hitam membelah cakrawala dan menghalangi bintang yang sedang menatap alam.

Udara mengalun memainkan ranting cemara dan membentuk rangkaian nada. Membelai hati meski begitu menusuk tulangku.

Ratusan jangkrik berderik di antara rumput memainkan harpa kesunyian bertempo cepat namun memilukan.

Tak ada gaung, teriak, bicara atau bisik manusia. Membuat malam selalu berbeda. Selalu tulus dan bernada.

Bukan suara manusia jika terdengar tulus dan bernada. Adalah suara manusia yang selalu sarat makna dan Tanya. Dan aku manusia tak pernah menganggap itu tulus dan bernada.

Dalam riuh binatang malam, aku diam memandang malam.

2 Comments:

Blogger Uyet said...

Suara-suara itu lebih indah... karena tak pernah ada dusta ataupun kemunafikan terdengar darinya..

4:55 AM  
Anonymous ummi said...

Yup! You completely right, mba... :)

10:37 AM  

Post a Comment

<< Home