Monday, May 09, 2005

Aku Menengadah

Wahai, langit. Apakah Tuhanku masih di sana
Memandangku yang belum bahagia
Meluaskan kuasanya lewat matahari pada saat siang
Dan bulan, bintang serta gelap di malam harinya.

Wahai, langit. Di mana kau simpan pengharapan ini
Di lapisan ke tujuh, ke enam atau bahkan masih mengawang di antara bongkahan meteor di lambung hampa udaramu
Atau dia ikut terperas pada gumpalan awan yang menampung cairan layaknya kandung kemih kemudian memburaikannya ke bumi diantara desing petir diiringi ribuan malaikat yang siap mendengarkan doa.

Wahai, langit. Andalah cerminan kuasanya
Yang memahami keserbamahaannya dengan mengurung bumi dan aku
Mengekspresikan kemarahan, tawa dan gurauanNya pada bumi dan aku.

Katakan padaku, wahai langit. Lewat angin ini, kerlipan bintang, hujan atau apa saja; apakah Tuhanku juga menangis atas ketidakbahagiaannku. Apakah mataNya nanar ketika memandangku dan tanganNya merentang untuk merengkuh dan memelukku?

Jika demikian. Sampaikan padaNya, wahai langit, sejuta kelukaan ini. Jangan kau halangi karena ikatan diantara kami begitu dekat. Jauh lebih erat dari yang kau miliki, karena kau hanya mahluk bisunya yang terus berotase normal antara terang dan gelap.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home