Tuesday, October 11, 2005

Tengah Hari

Langit masih suram dirubung asap dari knalpot dan debu
Aku berjalan menyusuri trotoar yang pecah-pecah
Kerap kali dibongkar pasang demi ditanami kabel, pipa...
Nafasku tersengal menghirup timbal
Dadaku membusung kemudian menghembus asap nikotin dari paru-paruku

Langkahku terhenti pada sebuah halte di sebrang apartemen
Berlantai coklat dan berdinding coklat,
Berkaca coklat dan dibatasi gerbang coklat

Kusandarkan tubuhku pada tiangnya
Tanganku mantap mencengkram perut
Yang sudah dua hari belum disentuh makanan padat

Aku tak peduli

Kulempar pandanganku ke tengah jalan
Puluhan, ratusan mobil berlari menggilas aspal
Riuh bunyi klakson serupa simfoni terburuk karya maestro rendahan
Sepasang tiang lampu merah yang telah hilang fungsi
Dibentangi spanduk hijau dengan kata;
"Bersama kita bangun bangsa!“

Segerombol bocah pengamen berebutan memburu bis kota
Seorang jatuh dan terjungkal menghantam trotoar
Seorang ibu menjerit, dua lelaki menoleh, kernet mengumpat,
Petugas buta dan tuli

Bocah meringis memegangi lutut yang berdarah
Kemudian melap dengan tangan kecilnya
Lalu bocah beranjak tertatih, ke mana entah di mana

Luka mengering di terik mentari
Lapar menyerah dihalau waktu
Kemudian, ketakberdayaan kian lalu...dan lalu

1 Comments:

Anonymous Anonymous said...

This comment has been removed by a blog administrator.

8:58 AM  

Post a Comment

<< Home