Friday, November 25, 2005

Agama atau Iman, Kajian Cerpen Babi Panggang

Cerpen Babi Panggang ditulis seorang Nazla Luthfiah lulusan FISIP UI yang aktif menulis puisi sejak SD dan menulis cerpen sejak SMP. Kumpulan cerpen yang bertajuk Lelaki Pembawa Senja diterbitkan oleh Ilman Books Oktober 2004 sebagai buku pertamanya yang dicetak dan dibaca di kalangan luas.

Cerpen-cerpen yang ditulis dalam buku ini mengajak pembacanya untuk menjadi pengamat hal-hal kecil, besar bahkan sepele yang terjadi dalam masyarakat. Cerpen Babi Panggang misalnya, ditulis sebagai salah satu contoh di mana masyarakat kita masih rancu untuk mengkombinasikan keyakinan pada ajaran dan hukum agama dengan pikiran dan akal.

Cerpen ini dimulai pada ketertarikan tokoh ‘aku’ tentang kelezatan dan kenikmatan daging babi yang diceritakan oleh temannya. Ada tendensi dari pengarang tentang pernyataan bahwa sesuatu yang ‘dilarang’ adalah hal yang menyenangkan (nikmat). Daging babi itu paling empuk dari segala daging. Kulitnya memang keras, tapi renyah. Dia juga menambahkan dalam narasinya kalau lemak yang terdapat dalam daging babi sangat gurih dan nikmat. Kemudian dialog diakhiri dengan: makanya, tanpa daging babipun, minyak dari lemak babi sudah bisa bikin orang ketagihan. (hlm. 48-49)

Dialog tersebut diselipkan untuk membuktikan kelezatan daging babi yang tiada duanya dan sekaligus mengundang rasa penasaran ‘aku’ untuk turut merasakan kelazatannya. Gara-gara cerita itu pula sekarang aku sedang berdiri tepat di depan sebuah restoran Cina.(hlm.49).
Melaui restoran Cina yang dipilih ‘aku’ untuk melunasi rasa penasarannya, pengarang mencoba mengemukakan bahwa di tempat itulah banyak menyediakan menu dengan unsur daging babi. Jari telunjukku menyususri satu-satu ke kelompok masakan daging babi. Babi bakar. Babi panggang. Babi goreng. Steak babi. Sop kaki babi. Mie daging babi. Bakso daging babi. Soto babi dan presto babi. (hlm. 50)

Kemudian, pengarang melanjutkan dengan beberapa kalimat dan situasi paradoks diantaranya pemahaman ‘aku’ (muslim) dengan tulisan yang dibacanya: di atas atap gerbang yang memiliki dua pilar berwarna merah terang, tertulis “100%” halal. Seperti halnya pemahaman yang sudah umum, tulisan tersebut ada hanya sebagai kedok yang dijadikan tameng untuk keselamatan masyarakat Cina (kaum minoritas) dan atau menghindari perusakan dan pembakaran yang sering terjadi. Pengarang menguatkan kritiknya mengenai kesenjangan beragama yang terjadi dalam masyarakat kita: Sentimen antaragama di negara ini memang cukup kuat.(hlm.49).
Kalimat di atas menjelaskan situasi carut marut perekonomian dan politik bangsa yang mengakibatkan munculnya isu sara’ serta sentimen beragama dalam masyarakat yang disusul dengan kerusuhan 1998 dan hal itu masih berbekas dalam pikiran pengarang tahun 2000 ketika cerpen ini ditulis.

Pengarang juga mengentalkan perbedaan itu pada apa yang dialami ‘aku’ ketika ia masuk ke dalam restoran, semua pengunjung menatap heran dirinya yang berjilbab (penutup kepala wanita muslim) hadir dalam restoran yang seharusnya tidak boleh dikunjungi wanita seperti dia. Meskipun demikian, rasa penasaran akan kelezatan daging babi tidak membuatnya berubah pikiran untuk meninggalkan tempat tersebut. Dia malah memilih tempat duduk dan memesan babi panggang pada pelayan.

Selanjutnya, ada yang menarik dalam cerpen ini. Meskipun ‘aku’ melawan dan berisikeras untuk merasakan nikmatnya daging babi, pengarang tetap berupaya menyadarkan tentang suatu pemahaman syariat dalam agama (Islam). Dalam tulisannya, ketika ‘aku’ berusaha mengusir kegelisahannya dia memandang ke sekeliling restoran. Kemudian matanya tertumbu pada tulisan kaligrafi berbahasa mandarin yang sama sekali tidak ia pahami. Tapi lama-kelamaan tulisan tersebut berubah: Makin lama kutatap, aku merasa tulisan itu seperti bergerak. Berputar pelan. Naik berurutan, lalu menyamping. Rangkaian huruf-hurufnya seperti membentuk ayat yang kuhafal di luar kepala,
Yang artinya: “Makanlah makanan yang halal lagi baik (dari apa yang Allah telah rezekikan kepadamu”.) (hlm53).

Demi melihat tulisan itu, dia merasa ketakutan pada konsekwensi yang akan dia terima kelak. Ketakutannya akan neraka dan kematian tanpa tobat sementara dia telah memakan daging babi. Lalu dalam ilusinya dia merasakan malaikat ‘Atid (pengawas perbuatan-perbuatan buruk manusia) tengah bersiap mencatat dosanya. Karena rasa takut yang demikian hebat dia memutuskan untuk pergi meninggalkan restoran tersebut.

Namun di akhir cerita pengarang justeru menciptakan ironi, di mana ‘aku’ menjadi bimbang lagi dan bahkan urung meninggalkan restoran ketika babi panggang pesanannya datang. Bau harum, hiasan hijau daun selada di atasnya dan merah dari tomat dipinggirannya serta warna kecoklatan yang dihadirkan masakan itu merubah ketakutannya menjadi bimbang lalu penasaran pada kelezatan babi panggang. Keyakinan ‘aku’ tentang daging babi yang dilarang agama goyah karena rasa penasaran yang kuat akan cita rasa yang ditampilkan masakan itu. Beberapa kalimat di akhir cerpen pengarang menuliskan: Akhirnya kuambil garpu yang jari-jarinya masih menusuk irisan daging babi panggang. Kuputar-putar lagi sebelum akhirnya masuk juga ke mulutku. Kukunyah pelan-pelan. Kucari-cari rasanya dalam lidahku. “O, My God!” Aku jadi lupa dosa.

Membaca cerpen Babi Panggang, kita seperti diajak untuk merenungkan kembali kayakinan dan konsekwensi kita terhadap agama yang kita anut. Dari judulnya saja kita sudah memahami bahwa Babi Panggang adalah jenis makanan yang dilarang dalam agama (Islam). Cerpen yang diungkapkan dalam bahasa sederhana namun memikat ini, menjadi penting artinya dalam konteks pemahaman agama dengan segala perangkat dan ajarannya bagi masyarakat kita yang baru sampai pada taraf ‘tahu’, namun belum menjadi ideologi mantap dalam kehidupan sehari-hari mereka. Makan daging babi, sentimen antaragama, adalah contoh dan statemen kritis yang dihadirkan dalam karya ini.

Lahirnya sebuah karya sastra memiliki sejarahnya sendiri-sendiri atau dalam bahasa M.H Abrams (1953) memiliki kaitan dengan dunia nyata (mimetik). Dalam cerpen ini tentu pengarang tidak begitu saja mengekspresikan sebuah karya tanpa pengalaman personalnya. Ketaknyamanan personal terhadap kungkungan agama dan ‘kejahilan’ berpikir tentang sesuatu yang bertentangan dengan ajarannya mungkin menjadi salah satu landasan.

Agama nampaknya bukan bahasa yang tepat untuk menghakimi, tapi hati dan intuisi yang tidak boleh berhenti untuk memilih jalan pada sebuah keyakinan (iman) di antara segala yang hampa dan abstrak. Karena iman adalah bahasa yang tidak dapat diterjemahkan, kecuali dengan pengakuan tulus apa yang metafisis dan yang Ilahiyah. Jika itu telah terjadi dengan penuh kesadaran maka imajinasi tentang keduniaan menjadi tidak penting adanya.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home