Tuesday, November 29, 2005

SEEKOR ULAR DALAM KEPALA (Sebuah Analisis Ideologi Gender)

Cerpen dengan tajuk Seekor Ular dalam Kepala ini membuat ngeri dan aneh pembacanya. Lin menyaksikan seekor ular masuk ke dalam kepalanya, lalu ular tersebut menjadi begitu berpengaruh dalam kehidupan sehari-harinya. Lin tiba-tiba menjadi perempuan yang bebas; bebas bertindak atau mengatakan apa saja yang ada dalam pikirannya. Lin mengatakan kalau suaminya loyo dan lamban, statement ini sangat mengejutkan hati Rob suaminya. (hal. 52-53). Bahkan Lin begitu saja mengakui perselingkuhannya dengan psikiaternya. (hal 58)

Jika melihat stereotip yang sudah menyatu dalam masyarakat kita, jelas Lin mendobraknya. Ungkapan suaminya loyo dan lamban pada tatanan kita sangat tidak pantas diucapkan oleh seorang istri terhadap suaminya. Ditambah lagi dengan perselingkuhan Lin yang diakuinya sendiri, pada sistem kita sungguh sangat bertentangan. Dengan alasan Agama dan aturan budaya dalam masyarakat kita perbuatan Lin dikatakan sebagai perbuatan durhaka terhadap suaminya.

Karena pemahaman yang ada dalam sistem kita adalah; istri harus menerima apapun yang diberikan suami baik itu berupa material atau pun immaterial. Seorang istri harus menunjukkan kesetiaannya dan menjaga keutuhan rumahtangganya pada saat suami sedang keluar rumah.

Selanjutnya, jika dilihat dari relasi keduanya dalam hubungan perkawinan, Lin terlihat lebih mendominasi suaminya. Rob membiarkan Lin menciumnya setiap kali ia akan pergi kerja dan itu selalu dilakukan setiap hari. Bukan sebaliknya (hal 54). Artinya, Rob selalu menjadi objek dari istrinya. Rob lebih banyak diam dan Lin selalu menguasai pembicaraan, juga menandakan kalau Lin lebih bebas mengutarakan pikirannya dibandingkan suaminya.

Rangkaian cerita yang unik dengan penggunaan bahasa kiasan ini memiliki pesan yang sangat luas. Ular yang ada dalam kepala Lin, pastilah bukan ular yang sebenarnya. Tetapi adalah sisi pemberontakan Lin dari konstruk yang ada. Meski Lin mencoba melawannya, namun akhirnya Lin kalah dengan sisi pemberontakannya itu.

Dengan kata lain cerita ini mencoba mengarahkan pembaca untuk membuka pikiranya tentang perbedaan-perbedaan yang sering terjadi antara suami-istri dalam perkawinan mereka. Sikap superior laki-laki yang „memaksa“ istri untuk selalu menjadi inferiornya sering menjadi masalah rumit dalam lembaga perkawinan. Hal tersebut juga terjadi dalam cerpen ini, di mana pada akhir cerita Rob berencana mengakhiri ‚pemberontakan’ Lin yang tidak dapat diterima di mata Rob. Baru setelah itu dia menghukumnya dengan perceraian.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home