Tuesday, March 21, 2006

Flower Ghost: Sebuah Analisis

Flower Ghost

She comes through the side
of the house
entering the kitchen
down a slant of light
bearing a basket of flowers

She desires to be everywhere
She will entrap your heart
If you accept her flowers

You cannot escape
You have become enraptured
with the scent of flowers

She has her own way around the house
which is not your way
So she has the advantage
and you
You give her more flowers

Louise Crisp (New Zealand: no year)

Kata Flower Ghost, jika dilihat dari judulnya seakan tidak memiliki keterkaitan antara satu dengan yang lainnya. Tetapi sebenarnya, bila dilihat lebih dekat melalui pemaknaan simbolisasi maka kedua kata tersebut memiliki makna yang saling terkait.

Pertama kata ghost yang berarti hantu yaitu sesuatu yang tidak dapat dilihat (meskipun terlihat ia selalu menampakkan dirinya dalam bentuk yang lain bukan sosok sebenarnya) tetapi dapat dirasakan. Bahkan kehadiran hantu dapat menimbulkan perasaan gelisah dan takut. Selain itu, kata ghost juga memiliki arti lain yaitu ‘kematian’ (The Ghost Town yang berarti kota ‘kematian’). Kematian merupakan titik akhir dari sebuah perjalanan hidup atau dalam agama Hindu sebagai puncak pencarian seseorang dalam hidupnya untuk bersatu dengan Tuhannya. Dengan demikian pengertian ghost pada pandangan sebagian banyak orang disimbolkan sebagai kematian yang pasti datang dan selalu mengikuti dan menghantui siapa saja seperti bom waktu yang setiap saat bisa meledak.

Kedua, kata Flower kadang-kadang memiliki makna simbol untuk cinta, sesuatu yang harum, kecantikan/cantik, perempuan dan bahkan kematian. Sehingga seseorang hanya menyebutkan kata bunga atau jenis bunga tertentu saja untuk mewakili dari salah satu simbol-simbol tersebut.

Melalui pemaknaan simbolisasi tersebut, kedua kata flower dan ghost memiliki keterkaitan bahwa kematian seperti seorang perempuan yang datang dengan ‘pesona’ dan ‘keharumannya’ kemudian meliputi kehidupan seseorang. Perempuan dalam hal ini bisa seorang Hawa terhadap Adam, Cleopatra terhadap Julius Caesar, Zulaikha terhadap Yusuf atau perempuan siapa saja yang hadir dan membuat orang terpesona dan lupa dengan sekitarnya.

Judul ini kemudian diperjelas dalam bait pertama, di mana si aku lirik menyebut kematian dengan She (dia perempuan) yang datang melalui samping rumah kemudian ke dapur. Terdapat ironi dalam tiga larik pertama /She comes through the side/ of the house/ entering the kitchen/ yaitu biasanya segala sesuatu atau seseorang apalagi dia seorang perempuan yang diharapkan kedatangannya pasti dia masuk melalui pintu depan dan ke ruang tamu. Namun pada bait ini, kehadiran she tidak diharapkan, karena itu dia menyelinap masuk melalui samping rumah bahkan memadamkan cahaya di sana dengan membawa sekeranjang bunga. Seperti kematian yang pasti akan datang meskipun tidak diharapkan tetapi dia akan datang menyelinap dengan membawa berbagai jenis kematian, bearing a basket of flowers.

Adapun house dalam puisi ini merupakan metaphor dari tubuh dan jiwa manusia di mana manusia dengan segala perangkat fisik dan akalnya menjadi sebuah unit yang sempurna yang kemudian digunakan untuk berpikir, bertindak dan merasa. Sama halnya dengan rumah. dalam konteks ini rumah merupakan sebuah unit yang saling mendukung sebagai salah satu fasilitas hidup primer yang berfungsi untung melindungi seseorang dari cuaca atau pun memberikan rasa aman dan nyaman.

Jika rumah adalah metaphor dari tubuh dan jiwa seorang manusia dengan segala fungsi di dalamnya, maka kematian yang hadir dan masuk layaknya perempuan yang menyelinap dari samping rumah pada akhirnya hal tersebut menjadi wacana yang senantiasa ada dalam pikiran dan jiwa manusia tanpa disadari maupun tidak.

Selanjutnya, pada bait kedua dijelaskan tentang ‘teror’ pesona dari aktivitas kematian dalam diri seseorang. /She desires to be everywhere/ kata desire merupakan kata yang bermakna erotisme atau juga keinginan alamiah yang kuat untuk mendapatkan atau menuju sesuatu. Kematian dengan desire-nya ingin berada di mana saja meliputi diri seseorang. Kematian akan mengekang dan mengikat hati orang yang didatanginya untuk terus berada dalam kendalinya apalagi ketika orang itu sudah menyadari kehadirannya, seperti yang disebut dalam larik /If you accept her flowers/

Keterikatan ini kemudian diperkuat pada bait ke tiga di mana seseorang yang telah masuk dan terjebak di dalam pesona kematian yang dihadirkan she membuatnya terpana tak bergerak selangkah pun untuk meninggalkannya. Ironi ini sengaja dihadirkan si aku lirik yang memang sejak awal membahasakan kematian sebagai sosok perempuan yang menggoda.

Kemudian pada bait terakhir, si aku lirik menekankan bahwa seseorang tidak dapat menentukan apapun atas dirinya sendiri pada saat kematian itu telah hadir. /She has her own way around the house/which is not your way/. Larik ini seolah menutup pilihan bagi seseorang yang sudah terjebak diambang kematiannya.

Selanjutnya pada tiga larik terakhir, si aku lirik juga menekankan arogansi sebuah kematian yang harus dihadapi. /So she has the advantage/ and you/. Jika advantage berarti ‘kesempatan’ juga berarti 'keunggulan' (He took advantage of the lone woman) maka kematianlah sebagai satu-satunya yang memenangkan ‘permainan’ ini. Dan manusia yang memang sejak awal menjadi objek kematian tersebut justru menambah kegemilangan dari kemenagannya dengan memperbanyak jumlah kematian. /You give her more flowers/.

Ada yang menarik dari puisi ini, di mana si aku lirik selalu menyebutkan kata bunga (flowers) dalam bentuk plural. Padahal bisa saja hanya dengan kata flower sudah mewakili symbol kematian misalnya. Dengan demikian terdapat beberapa flowers yang perlu dimaknakan, ada beberapa kematian yang ingin digambarkan oleh si aku lirik. Kematian dalam hal ini sangat general seperti yang di sebutkan pada bait pertama larik ke lima /bearing a basket of flowers/.

Kematian dalam hal ini bisa saja kematian pada jiwa, hati, pikiran, kreativitas, pengetahuan atau apa saja yang terdapat pada diri manusia. Artinya kematian dalam bentuk lain juga bisa terjadi. Seseorang akan mati pengetahuan dan kreativitasnya jika ia tidak belajar. Mati dalam arti orang tersebut tidak memiliki fungsi sosial yang seharusnya. Meskipun badannya tetap hidup, namun pada hakikatnya dia telah mati dalam kehidupannya itu. Orang seperti ini hanya akan menjadi sampah masyarakat yang sebagian orang menganggapnya bau dan mengganggu.

Dengan demikian, puisi ini adalah sebuah peringatan kepada kita, bahwa kematian (dalam bentuk apapun) selalu ada di sekitar kita, menghantui kita dan suatu saat dia dengan serta merta akan merengut kehidupan kita. Karena kematian adalah takdir Tuhan yang setiap manusia atau apapun yang bernafas akan menghadapinya cepat atau lambat, mau atau tidak mau.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home